
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Ku lahap saja mi instan pada pukul sembilan
Sudah waktunya kita rebahan
Putar film kesukaan
Makna lirik lagu ini menggambarkan momen santai dan kenyamanan dalam hidup sehari-hari, di... tampilkan semua
Ku lahap saja mi instan pada pukul sembilan
Sudah waktunya kita rebahan
Putar film kesukaan
Makna lirik lagu ini mencerminkan gaya hidup santai dan menikmati momen-momen kecil dalam ... tampilkan semua
Jika saja ku masih remaja
Seperti api yang membara
Senantiasa berbahagia
Saat terbawa suasana
Makna lirik lagu ini mencerminkan kerinduan akan masa remaja yang penuh semangat dan kebah... tampilkan semua
Jika saja ku masih remaja
Seperti api yang membara
Senantiasa berbahagia
Saat terbawa suasana
Makna lirik lagu ini menggambarkan kerinduan terhadap masa remaja yang penuh semangat dan ... tampilkan semua
Kalau kau tak lagi membeci
Mengapa masih memaki?
Ekspektasi dengan fantasinya
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Makna lirik lagu ini mengungkapkan perasaan kebingungan dan kekecewaan dalam hubungan yang... tampilkan semua
Kalau kau tak lagi membeci
Mengapa masih memaki?
Ekspektasi dengan fantasinya
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Makna lirik lagu ini mencerminkan konflik emosional dalam sebuah hubungan, di mana seseora... tampilkan semua
Jika kau tak lagi remaja
Tentunya kau takkan rela
Bagaikan hidup dengan pahitnya
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Makna lirik lagu ini mencerminkan kehilangan dan kerinduan akan masa remaja yang penuh keb... tampilkan semua
Jika kau tak lagi remaja
Tentunya kau takkan rela
Bagaikan hidup dengan pahitnya
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Kau tak bisa membuat semua bahagia
Makna lirik lagu ini menggambarkan perasaan kesedihan dan ketidakpuasan yang dialami seseo... tampilkan semua
Lagu "Katanya Sudah Tak Lagi Membenci, Lantas Mengapa Masih Memaki?" dari The Jansen merupakan sebuah karya yang mengajak pendengar untuk merenungkan tentang perjalanan emosi dan realitas kehidupan. Dengan permainan lirik yang sederhana namun mendalam, lagu ini menyentuh tema nostalgia, perasaan tidak puas, serta konflik batin yang sering dialami oleh individu di fase kehidupan yang berbeda.
Makna dan Arti Lirik
Diawali dengan ungkapan sederhana tentang makan mi instan dan bersantai sambil menonton film, lagu ini seolah membawa kita pada kenyamanan sehari-hari. Namun, di balik kesederhanaan itu, terdapat lapisan makna yang lebih kompleks. Frasa "Ku lahap saja mi instan pada pukul sembilan" menggambarkan situasi ketika seseorang menikmati momen kecil dalam hidup, yang sering kali diabaikan. Momen ini menjadi refleksi akan kebahagiaan kecil yang mungkin dapat menjadi pelarian dari realita hidup yang lebih berat.
Selanjutnya, terdapat pengulangan pernyataan "Jika saja ku masih remaja," yang mengisyaratkan kerinduan akan masa lalu. Dalam konteks ini, remaja diartikan sebagai suatu fase yang penuh semangat dan kebahagiaan. Liriknya menyiratkan bahwa kematangan dan tanggung jawab yang datang dengan dewasa sering kali mengakibatkan hilangnya kebahagiaan dan semangat. Ini menjadi titik tolak diskusi tentang bagaimana pengalaman hidup dapat mempengaruhi cara seseorang merasa dan bersikap.
Pertentangan Emosi
- Ketidakpuasan: Dalam bagian "Kalau kau tak lagi membeci, mengapa masih memaki?", terdapat sebuah pertanyaan retoris yang mengungkapkan konflik internal. Ini menggambarkan perasaan seseorang yang melakukan protes meskipun mereka telah berusaha melepaskan segala kebencian. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun seseorang mengklaim telah move on, terkadang emosi negatif itu masih membekas dalam diri.
- Ekspektasi dan Realita: Lirik yang menyoroti "Ekspektasi dengan fantasinya, kau tak bisa membuat semua bahagia," menunjukkan sinisme terhadap harapan yang tidak tercapai. Lagu ini menanyakan apakah harapan yang diciptakan oleh seseorang sejalan dengan kenyataan yang dihadapi. Ini merupakan panggilan untuk introspeksi, apakah kita benar-benar bahagia atau hanya berusaha untuk terlihat bahagia.
Penutup: Penerimaan dan Kebahagiaan
Dalam refrain yang berulang, penyanyi menegaskan bahwa "Kau tak bisa membuat semua bahagia." Poin ini merangkum esensi lagu tersebut, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan adalah pilihan pribadi dan kadang kita terjebak dalam siklus mencari kepuasan eksternal.
Secara keseluruhan, "Katanya Sudah Tak Lagi Membenci, Lantas Mengapa Masih Memaki?" oleh The Jansen bukan hanya sekadar sebuah lagu dengan gaya penggambaran yang catchy dan ringan. Meskipun terkesan santai, di dalamnya tersimpan kritik sosial dan refleksi yang mendalam tentang kehidupan, harapan, dan baha. Dengan itu, lagu ini berhasil membangkitkan rasa empati dan kesadaran pada pendengarnya.
- 1Hey, Dasar Kau Rubah!3:40
- 2Kitalah Penjelajahnya!4:18
- 3Sudah, Jangan Lagi Kau Jual Rasa Sedihmu!2:16
- 4Katanya Sudah Tak Lagi Membenci, Lantas Mengapa Masih Memaki?2:41
- 5Ah, Untung Saja Aku Terpesona Olehnya3:50
- 6Apakah Benar, Dendam Harus Terbayarkan?2:49
- 7Saat Berdamai Dengan Realita4:05
- 8Keberuntungan Memang Tak Semua Kita Punya2:32
- 9Serangan yang Kau Lancarkan Itu Percuma3:11
- 10Hanya Ada Kegelapan yang Menunggumu Di Sana4:21
- 11Jam Dua Belas2:18
- 12Dan Aku Pun Mengharapkan Masa Depanku, Menjadi Apa yang Ku Mau!2:17














































