
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi?
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata
Air mata
Makna lirik lagu ini mencerminkan kesedihan dan kepedihan yang diakibatkan oleh kecelakaan... tampilkan semua
Belum usai peluit, belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata
Air mata
Makna lirik lagu ini mencerminkan perjuangan dan harapan yang belum berakhir di tengah per... tampilkan semua
Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja?
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa?
Aku bosan
Makna lirik lagu ini mengisyaratkan kritik terhadap ketidakpedulian dan kepasifan orang-or... tampilkan semua
Lalu terangkat semua beban di pundak
Semudah itukah luka-luka terobati?
Makna lirik lagu ini menggambarkan proses penyembuhan dari rasa sakit dan beban emosional ... tampilkan semua
Nusantara
Tangismu terdengar lagi
Nusantara
Derita bila terhenti
Bilakah?
Bilakah?
Makna lirik lagu ini mengisyaratkan tentang kerinduan dan kesedihan yang mendalam terhadap... tampilkan semua
19 Oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata
Air mata
Makna lirik lagu ini mencerminkan rasa duka dan kehilangan yang mendalam akibat tragedi ya... tampilkan semua
Nusantara
Langitmu saksi kelabu
Nusantara
Terdengar lagi tangismu
Nusantara
Kau simpan kisah kereta
Nusantara
Kabarkan marah sang duka
Makna lirik lagu ini menggambarkan kesedihan dan kepedihan yang dialami oleh sebuah tanah ... tampilkan semua
Saudaraku, pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
Saudaraku, pergilah dengan tenang
Makna lirik lagu ini mencerminkan ungkapan duka cita dan harapan di tengah kehilangan. Fra... tampilkan semua
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Nusantara
Makna lirik lagu ini mengisyaratkan kecintaan dan kedalaman rasa identitas terhadap tanah ... tampilkan semua
Saudaraku, pergilah dengan tenang
Sebab duka sudah tak lagi panjang
Saudaraku ...
Makna lirik lagu ini mencerminkan perasaan duka dan harapan terhadap seseorang yang telah ... tampilkan semua
Lagu "1910" yang dinyanyikan oleh Iwan Fals adalah sebuah karya yang mengangkat tema duka dan tragedi, dengan konteks sejarah yang mendalam. Liriknya yang menyentuh jiwa membawa pendengar merenungkan peristiwa menyedihkan yang terjadi di negeri ini, khususnya pada insiden kereta api yang tragis di Bintaro pada tahun 1987. Dalam artikel ini, kita akan mengeksplorasi makna dan pesan yang terkandung dalam lirik lagu tersebut.
Kehilangan dan Duka
Diawali dengan pertanyaan retoris, "Apa kabar kereta yang terkapar di Senin pagi?", lirik ini langsung membawa kita ke peristiwa namanya menjadi catatan sejarah kelam. Kata-kata "di gerbongmu ratusan orang yang mati" dengan jelas menggambarkan besarnya kehilangan hidup yang terjadi dalam insiden tersebut. Frasa ini mengajak kita untuk mengingat bukan hanya angka, tetapi juga kisah di balik setiap nyawa yang hilang, serta mimpi yang hancur bersamanya.
Suara Tangis dan Belasungkawa
Kemudian, lirik melanjutkan dengan istilah "air mata" yang berulang, menekankan betapa dalamnya rasa duka yang dirasakan oleh masyarakat. Ini adalah ungkapan emosi yang universal—air mata sebagai simbol kehilangan. Dalam bagian "berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja?" terdapat kritik terhadap sikap pemerintah dan elit yang berhadapan dengan tragedi. Apakah mereka hanya memberikan ucapan belasungkawa tanpa merasakan beban dari kejadian tersebut?
Refleksi dan Perenungan
Selanjutnya, Iwan Fals mengajak pendengar untuk merefleksikan dampak dari peristiwa tragis ini melalui lirik "luka-luka terobati". Pertanyaan ini membawa harapan sekaligus skeptisisme—apakah benar luka yang dialami akan dapat sembuh seiring berjalannya waktu? Ini adalah pertanyaan mendalam tentang proses penyembuhan kolektif bagi bangsa yang telah mengalami kesedihan.
Pentingnya Memori Kolektif
Unsur Nusantara yang berulang dalam lirik semakin menegaskan arti penting dari kejadian ini sebagai bagian dari sejarah bangsa. Sebagai suatu kesatuan yang lebih besar, kita harus menyimpan kenangan dan pelajaran dari peristiwa ini. Perpaduan antara kemarahan dan duka itu direpresentasikan melalui ungkapan "bangkai kereta lemparkan amarah", yang menggambarkan betapa sulitnya menerima kenyataan pahit dari peristiwa yang terjadi.
Pesan untuk Bangsa
Akhir dari lagu ini memberikan harapan, di mana Iwan Fals menggugah untuk "pergilah dengan tenang". Ini adalah pesan purna bagi mereka yang telah pergi—sebuah pengingat bahwa meski kita berduka, kita harus melanjutkan hidup. Frasa ini mencerminkan harapan bahwa suatu saat, duka yang kita rasakan tidak lagi membelenggu kita, dan kita dapat menatap masa depan dengan penuh harapan.
Kesimpulan
Lagu "1910" lebih dari sekadar komposisi musik; ia adalah gambaran mendalam tentang duka, kehilangan, dan harapan. Melalui liriknya yang kuat, Iwan Fals tidak hanya mengenang tragedi tersebut, tetapi juga mengajak pendengar untuk merenungkan keadaan kolektif bangsa. Dengan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, lagu ini tetap relevan sepanjang zaman, mengajak kita semua untuk tidak lupa akan sejarah dan selalu menghargai kehidupan.








































