
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Makin jauh kau terkubur lingkaran angan-angan
Engkau tak sanggup lepas dari belenggu
Terbenam dalam mimpi yang melambung jauh ke sorga
Dan lupalah segala-galanya
Makna lirik lagu ini menggambarkan keadaan seseorang yang terjebak dalam angan-angan dan i... tampilkan semua
Matamu kaubutakan, telinga tak mendengar perjalanan roda dunia
Engkau menipu diri, menyusup dalam lumpur
Terbang melayang hinggap di keindahan semu
Makna lirik lagu ini menggambarkan kondisi seseorang yang terperangkap dalam kebohongan da... tampilkan semua
Kawan, demi Tuhan aku rela menangis
Bila saja air mataku dapat membuka kesadaranmu
Kembali melintasi sisa hari dengan bertobat
Buang jauh-jauh mimpi yang memabukkan
Terbukalah mata, marilah kita jalan bersama
Makna lirik lagu ini menggambarkan rasa cinta serta kepedihan seseorang yang rela berkorba... tampilkan semua
Entah apa yang kautangkap dengan kataku ini
Aku masih tetap menghormatimu
Cobalah berfikir waras, hadapi semua tentangan
Maafkan aku terpaksa meninggalkanmu
Maafkan aku terpaksa meninggalkanmu
Makna lirik lagu ini mencerminkan perasaan dilematis seseorang yang harus meninggalkan hub... tampilkan semua
Lagu "Khilaf" karya Ebiet G. Ade adalah karya seni yang kaya akan makna dan filosofi kehidupan. Melalui liriknya yang puitis, penyanyi ini mengungkapkan perasaan dan harapan terhadap seseorang yang terjebak dalam ilusi dan kehilangan arah. Mari kita telusuri makna serta pesan yang terkandung dalam lagu ini.
Pemahaman Terhadap Keterasingan dan Ilusi
Lirik pembuka menyebutkan, "Makin jauh kau terkubur lingkaran angan-angan." Sejak awal, kita diajak untuk memahami bahwa ada seseorang yang terjebak dalam dunia angan-angan, jauh dari kenyataan. Keduanya terpisah oleh jarak yang semakin lebar, menciptakan rasa keterasingan.
Penggambaran "terbenam dalam mimpi yang melambung jauh ke sorga" memperjelas bahwa mimpi tersebut bukanlah realita. Karenanya, individu ini melupakan hal-hal penting dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini mencerminkan bahaya dari terlalu larut dalam ilusi, yang dapat mengakibatkan ketidakpedulian terhadap kenyataan di sekeliling.
Pentingnya Kesadaran Diri
Selanjutnya, lirik tersebut menegaskan, "Matamu kaubutakan, telinga tak mendengar perjalanan roda dunia." Ini menyoroti hilangnya kesadaran diri yang dapat membuat seseorang lumpuh dalam menghadapi realitas. Dengan kata lain, penyanyi menyentuh tentang dampak dari ketidakpedulian dan pengabaian terhadap dunia nyata.
Melalui bait ini, Ebiet G. Ade ingin menggugah pendengar agar tidak menjadi penipu diri sendiri. Menyusup dalam lumpur menunjukkan keterpurukan yang dalam, di mana individu terus terjebak dalam masalah tanpa berusaha keluar. Pesan tersebut menjadi semakin kuat saat penyanyi menyatakan, "Cobalah berfikir waras, hadapi semua tentangan." Ini adalah seruan untuk membuka mata dan menghadapi realitas meskipun sulit.
Pentingnya Pertobatan dan Kebersamaan
Di bagian lain, penyanyi melukiskan keharuannya: "Kawan, demi Tuhan aku rela menangis, bila saja air mataku dapat membuka kesadaranmu." Ini menggambarkan rasa empati dan kepedulian yang mendalam terhadap orang terkasih, yang terpuruk dalam mimpi yang memabukkan. Parellel ini menunjukkan bahwa terkadang, air mata bisa jadi alat untuk membangunkan orang lain dari ilusi.
Pernyataan "Kembali melintasi sisa hari dengan bertobat" mengajak individu untuk merenungkan langkah yang telah diambil, dengan harapan adanya perbaikan di masa depan. Tentu saja, perjalanan ini tidak bisa dilakukan sendiri, di mana sang penyanyi mengajak untuk berjalan bersama, saling mendukung dalam realisasi dan pengertian yang lebih baik tentang kehidupan.
Tema Pengorbanan dan Maaf
Puncak dari lirik ini merangkum tema pengorbanan dan maaf. "Maafkan aku terpaksa meninggalkanmu" menunjukkan konflik batin dari pengarang yang merasa harus pergi demi kebaikan sang teman. Dalam konteks ini, pengorbanan cinta menjadi sarana untuk memfasilitasi proses penyadaran dan pertobatan.
KesimpulanLag u "Khilaf" oleh Ebiet G. Ade adalah sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan, keterpurukan, dan harapan akan kesadaran diri. Dengan lirik yang puitis dan penuh makna, lagu ini mengajak pendengarnya untuk merenungkan realitas, mengingatkan akan pentingnya kebersamaan, serta menekankan potensi pertobatan dalam menghadapi hidup.













































