
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Lelaki yang tersuruk di ketiak angin
Langkahnya terhambat, gamang, dan serba canggung
Gugup terbata-bata, hilang percaya diri
Meski bersikeras tegak nampak tak ada daya
Makna lirik lagu ini menggambarkan kondisi seorang lelaki yang merasa terpuruk dan kehilan... tampilkan semua
Wajahnya yang tampan bahkan terlalu manis
Ditambahi polesan, lengkaplah kegagalan
Jalan lenggang gemulai, enteng seperti kapas
Tak tercermin sikap jantan sebagaimana kodratnya lelaki
Makna lirik lagu ini menggambarkan seorang pria yang tampan dan memiliki penampilan menari... tampilkan semua
Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung
Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar
Tanda tanya bergolak di dalam pikirannya, "Berdosakah?"
Sedang ia pun tak menghendaki
Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya
Makna lirik lagu ini menggambarkan perasaan kompleks seseorang yang terjebak dalam cinta y... tampilkan semua
Perempuan dongak di atas angin
Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan
Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan
Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya
Makna lirik lagu ini menggambarkan sosok perempuan yang kuat dan tangguh, meskipun terdapa... tampilkan semua
Rambutnya yang kasar kotor berdebu
Diisapnya cerutu bibir retak terbakar
Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa
Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki
Makna lirik lagu ini menggambarkan sosok seorang pria yang tampil garang dan percaya diri,... tampilkan semua
Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua
Agar saling isi dengan cerita derita duka lara
Barangkali nanti tumbuh naluri sejati
Dan kembali seperti sediakala
Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti
Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti
Makna lirik lagu ini mencerminkan keinginan yang mendalam untuk menyatukan dua orang yang ... tampilkan semua
Lagu 'Zaman' oleh Ebiet G. Ade menawarkan sebuah refleksi mendalam mengenai perjuangan identitas dan emosi yang dialami oleh pria dan wanita di tengah arus zaman yang penuh tantangan. Melalui lirik yang puitis, Ebiet menggambarkan karakter laki-laki dan perempuan dengan simbolisme yang kaya, menyoroti berbagai aspek dari pengalaman hidup mereka.
Pada bagian awal, penulis memperkenalkan seorang lelaki yang "tersuruk di ketiak angin", yang menunjukkan keadaan tertekan dan lemah. Kata-kata ini mencerminkan betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya. Meskipun ia memiliki penampilan yang tampan, justru hal tersebut menjadi ironi ketika ditambahkan dengan keterangan bahwa dia "hilang percaya diri". Ini menciptakan gambaran tentang ketidakcocokan antara penampilan fisiknya dan keadaan emosionalnya yang cemas dan ragu-ragu.
Konflik Identitas dan Emosi
Dalam lirik selanjutnya, digambarkan bahwa lelaki ini tersembunyi di balik tangis yang "tak kuasa dibendung". Ini menunjukkan bahwa di balik facade yang keras, ada kelemahan yang mendalam. Dia jatuh cinta tetapi merasa bahwa cinta tersebut adalah sesuatu yang "tak wajar", mengungkapkan konflik batin yang ia alami. Pertanyaan "Berdosakah?" menegaskan kebingungan moral yang menghantuinya; ini adalah cerminan dari kerentanan manusia dalam menghadapi perasaan yang kompleks.
Di sisi lain, tokoh perempuan digambarkan dengan cara yang kontras. Dia memiliki "kepala bengkak penuh mimpi kekerasan" dan "tubuh sintal dan tegap" yang menunjukkan kekuatan dan ketegasan. Namun, lirik ini juga mengingatkan kita bahwa meskipun dia terlihat kuat, ia tidak sepenuhnya lepas dari cengkraman kerasnya realita. Di sini, kita melihat gambaran tentang harapan dan cita-cita yang dilanda oleh kekerasan dan kegelisahan.
Pertemuan yang Diharapkan
Wacana untuk mempertemukan kedua karakter tersebut menjadi titik kunci dalam lagu ini. Penulis menawarkan gagasan bahwa dengan saling berbagi cerita derita dan lara, mungkin keduanya bisa menemukan "naluri sejati" dan kembali ke kondisi yang lebih baik. Di sini, terdapat harapan untuk menemukan jalan keluar dari kesedihan yang mereka alami serta pencarian makna hidup yang lebih dalam.
Di akhir lagu, penekanan pada "hanya Tuhan yang mengerti" memberikan kesadaran bahwa tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh manusia. Ada dimensi spiritual dalam perjalanan hidup yang kadang harus diterima, mengajak kita untuk berserah kepada Yang Maha Kuasa.
Kesimpulan
'Zaman' adalah lebih dari sekadar lagu; ia adalah sebuah karya seni yang merangkum emosi manusia dalam bentuk puitis yang kaya. Liriknya menggambarkan ketegangan antara penampilan dan kenyataan, keinginan dan harapan, serta kompleksitas cinta. Melalui kisah dan refleksi ini, Ebiet G. Ade berhasil menangkap esensi dari pencarian makna hidup dalam berbagai dimensi, yang selalu relevan di setiap zaman.













































