
- Tentang
- Lirik
- Review
- Tracklist
- Komentar
Jala api, lidahnya terjulur menyengat wajah bumi
Awan terbakar, langit berlubang menganga
Menyeringai bagaikan terluka
Pohon-pohon terkapar letih tanpa daya
Mata air terengah-engah, dahaga
Burung-burung hanya basa-basi berkicau
Lapisan jagat terkelupas
Semua kerna ulah kita
Warisan untuk anak cucu nanti, hoo
Makna lirik lagu ini menggambarkan dampak negatif dari perilaku manusia terhadap lingkunga... tampilkan semua
Jala api, lidahnya berkelit saat ingin kutangkap
Terlampau naif angan-angan yang kurajut
Untuk menyelamatkan dunia
Setiap detik ingin kutanam pepohonan
Mata air kuluahi embun surgawi
Burung-burung kuajari bernyanyi-nyanyi
Kuhapus semua mimpi buruk
Dan mekarlah bunga-bunga
Masa depan buat mereka, hoo
Makna lirik lagu ini menggambarkan harapan dan perjuangan untuk menciptakan dunia yang leb... tampilkan semua
Bila matahari bangkit dari tidur
Aku mulai berfikir, bagaimanakah caranya
Bila sinar rembulan mulai merah menyala?
Aku masih berharap kearifan Yang Kuasa
Makna lirik lagu ini mencerminkan refleksi mendalam tentang kehidupan dan keberadaan, di m... tampilkan semua
Bila matahari bangkit dari tidur
Aku mulai berfikir, bagaimanakah caranya, hu-hu
Bila sinar rembulan mulai merah menyala?
Aku masih berharap kearifan Yang Kuasa
Makna lirik lagu ini mengisyaratkan refleksi dan pencarian makna hidup yang mendalam. Mela... tampilkan semua
Dari jendela kamarku dapat aku dengar
Gemercik suara air kali yang tak pernah berhenti
Jangan sampai terhenti biarpun langit terluka
Makna lirik lagu ini mencerminkan perasaan kepekaan seseorang terhadap lingkungan sekitar,... tampilkan semua
Lagu "Langit Terluka" yang ditulis dan dinyanyikan oleh Ebiet G. Ade adalah sebuah karya yang sangat puitis dan sarat makna. Melalui liriknya, Ebiet menyampaikan sebuah pesan yang mendalam mengenai keadaan alam, kerusakan lingkungan, dan harapan untuk masa depan. Dalam ulasan ini, kita akan membahas makna dan pesan yang terkandung dalam lirik lagu ini.
Potret Alam yang Terluka
Dari pembukaan lagu, kita diperkenalkan pada gambaran yang cukup mengejutkan: "Jala api, lidahnya terjulur menyengat wajah bumi". Frasa ini menggambarkan kekuatan alam yang sedang marah akibat perbuatan manusia. Awan yang terbakar dan langit yang berlubang menimbulkan kesan bahwa lingkungan mengalami kerusakan parah. Dalam kalimat ini, terdapat kritik sosial yang kuat terhadap ulah manusia yang menyebabkan bencana alam.
Refleksi Rasa Bersalah Manusia
Salah satu bagian lirik yang menarik adalah "Semua kerna ulah kita, warisan untuk anak cucu nanti". Kalimat ini menyiratkan rasa tanggung jawab yang seharusnya dimiliki oleh manusia atas kerusakan yang terjadi. Manusia dihadapkan pada konsekuensi dari tindakan mereka sendiri yang dapat mempengaruhi generasi mendatang. Di sini, Ebiet mengajak kita untuk merenungkan dampak dari tindakan kita terhadap dunia dan bagaimana hal itu akan diwariskan kepada anak cucu.
Harapan untuk Perubahan
Di tengah derita dan kerusakan, muncul harapan dalam lirik: "Terlampau naif angan-angan yang kurajut untuk menyelamatkan dunia". Ini menunjukkan keyakinan bahwa masih ada jalan untuk memperbaiki keadaan. Melalui penanaman pohon, pengelolaan mata air, dan mengajarkan burung bernyanyi, kita dipanggil untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam. Harapan itu tidak hanya disimpan dalam angan-angan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Perenungan tentang Kebangkitan dan Harapan
Dalam repetisi lirik tentang matahari yang bangkit dan sinar rembulan yang merah menyala, kita melihat sebuah simbol kebangkitan. Ini bisa diartikan sebagai datangnya harapan baru dan energi untuk melakukan perubahan setelah masa-masa sulit. Tornya penekanan pada kearifan dari Yang Kuasa menunjukkan bahwa manusia juga harus menyerahkan harapan kepada yang lebih besar, yaitu Tuhan, untuk memberikan petunjuk dalam mengatasi masalah yang dihadapi.
Pentingnya Menjaga Alam
Akhir dari lagu ini menekankan pentingnya menjaga keberlangsungan alam: "Jangan sampai terhenti biarpun langit terluka". Pesan ini mengajak pendengar untuk tidak menyerah bahkan ketika segala sesuatunya tampak berat. Keberlanjutan dan pelestarian alam harus terus dijalankan meskipun ada tantangan di depan.
Secara keseluruhan, "Langit Terluka" oleh Ebiet G. Ade adalah lebih dari sekadar lagu; ia adalah sebuah seruan untuk kesadaran lingkungan dan tanggung jawab sosial. Melalui liriknya yang kuat dan puitis, penikmat musik tidak hanya diajak untuk menikmati melodi, tetapi juga untuk merenungkan bagaimana kita bisa berkontribusi bagi kelestarian bumi.














































